Mengunjungi Tay Kak Sie, Klenteng Terbesar di Semarang - Sewa Mobil Ungaran - DION TRANSPORT - Sewa Mobil Semarang Harga Terjangkau

Minggu, 01 April 2018

Mengunjungi Tay Kak Sie, Klenteng Terbesar di Semarang



Tay Kak Sie





Kalau Anda sedang berada di Semarang, jangan lupa untuk mampir ke Jalan Gang Lombok. Di sana, Anda akan menjumpai kawasan pecinan terbesar yang ada di Ibukota Jawa Tengah itu. Masuk ke dalam gang ini, Anda akan menemukan sebuah perahu besar yang akan menarik perhatian. Bangunan perahu ini merupakan replika perahu Laksamana Zheng He dan tepat di seberangnya terdapat sederet bangunan tua yang biasa disebut Klenteng Tay Kak Sie.

Pada awalnya, Klenteng Tay Kak Sie digunakan untuk memuja Yang Mulia Dewi Welas Asih Koan Sie Im Po Sat. Tapi seiring waktu, klenteng terbesar dan terlengkap di Semarang ini berkembang menjadi tempat pemujaan berbagai Dewa Dewi dari aliran Tao maupun Konfusianisme. Pada bangunan yang berdiri sejak tahun 1746 ini, tertulis nama Tay Kak Sie tepat di pintu masuknya. Pada pintu masuk tersebut, terdapat penjelasan sejarah penamaan klenteng yang berarti Kuil Kesadaran Agung ini oleh Kaisar Dao Guang (1821-1850) dari Dinasti Qing.  

Seperti klenteng pada umumnya, Klenteng Tay Kak Sie juga kaya akan ornamen dan simbol-simbol yang berhubungan dengan kepercayaan aliran Budha, Tao, dan Konfusianisme. Misalnya, atap klenteng berhiaskan sepasang naga sedang memperebutkan matahari. Naga dalam mitologi Tionghoa merupakan binatang yang melambangkan keadilan, kekuatan, dan penjaga barang-barang suci. “Naga atau Liong punya kekuatan untuk mengubah bentuknya, itu berarti kewaspadaan yang tinggi," papar Liem Gie Hong, seksi penerima tamu klenteng. Sepasang naga di atap tersebut merupakan simbol penjaga klenteng dari pengaruh jahat.

Dilihat dari segi arsitektur, Klenteng Tay Kak Sie merupakan klenteng yang paling bagus, baik dari segi ornamen maupun hiasan-hiasannya. Jika dibandingkan dengan klenteng lain yang berada di Semarang, konstruksi gaya Tiongkok terlihat jelas pada bagian tiang penahan bangunan yang terbuat dari kayu berbentuk segitiga. Sistem penahan bingkai berbentuk segitiga tersebut atau dalam bahasa Mandarin disebut dou-gong ini difungsikan untuk menahan kasa-kasa bagian atap depan, mirip bangunan klenteng di abad 19.

Pada hari-hari tertentu, klenteng ini mengadakan berbagai upacara keagamaan yang banyak menarik pengunjung untuk datang ke sini. Pengunjung yang datang ternyata tidak selalu beretnis Tionghoa. Masyarakat sekitar pun turut meramaikan dan ikut menyaksikan berbagai pementasan kesenian yang diadakan. Bahkan, hal tersebut juga menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan asing untuk berkunjung ke Semarang. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages